Deeptalk (1) : Sementara; Tidak Selamanya

Pembahasan Deep Talk di Double O Cafe

Invisible Adventure
2 min readSep 9, 2022

Setahun ini kami bertukar opini tentang sosok lelaki seperti apa yang tepat untuk diri. Seseorang datang, lagi dan lagi memulai dari titik nol dan berakhir kemudian. Meninggalkan kesan tersendiri, juga pesan yang membangun hubungan lain kedepannya. Menjadikannya semakin kuat dan memperkaya pengalaman. Kakakku, menjalaninya dengan sekuat tenaga hingga dia sampai pada titik lelah mencari lagi. Dari bab pertemuan, bab kenyamanan, bab penerimaan, bab sakit hati, bab yang banyak sekali. Akhirnya kini hatinya berlabuh pada seseorang yang justru tidak memberi kenyamanan. Justru hatinya berlabuh pada seseorang yang memberi kepercayaan, rasa aman atas terjaganya sebuah komitmen.

Malam itu akhirnya akupun paham, bahwa modal utama untuk melangkah menuju pernikahan itu bukan terletak pada sesuatu yang fana. Sungguh bukankah sudah Allah katakan untuk memilih karena agama? Oh tidak, bukan hanya sebatas apa yang kita lihat pada pasangan kita, tapi juga apa yang kita harapkan dan apa yang menjadi landasan kita untuk menjalaninya. Bukan hanya persepsi dan harapan tentang agama calon pasangan, tapi juga persepsi kita sendiri. Kita benar-benar tidak akan bisa bergantung pada siapapun, sungguh tidak akan bisa. Sekuat dan semapan apapun seseorang, tetap saja dia manusia yang tidak bisa dijadikan tempat bersandar. Sangat salah jika kita menaruh seluruh harapan pada seseorang.

Itu tentang agama, mungkin agak sulit dipahami. Tapi tentang kenyamanan, mungkin lebih mudah dijelaskan.
Bagaimana bisa kamu memilih seseorang untuk menjadi teman hidup tapi orang itu bahkan tidak menyamankan dirimu? Awalnya aku tidak mengerti. Tapi akhirnya aku paham, Kenyamanan hanyalah satu dari sekian banyak hal yang kita dapatkan dari pernikahan. Dan kenyamanan sama seperti makhluk Allah lainnya, bisa jadi hilang begitu saja, bisa jadi berubah seiring waktu dan tantangan. Tidak ada yang menetap, tidak ada yang abadi, semuanya sesaat, sementara. Bagaimana mungkin sesuatu yang sementara akan menjadi alasan seseorang untuk menentukan hal yang akan berlangsung lama? Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak abadi menjadi alasan untuk bergantung? Ah iya, ini bab tauhid, bukan hanya bab munakahat.

Iya memang, kenyamanan, kesepahaman, sekufu, dan hal-hal lain, apalagi agama, membantu kita untuk menemukan seseorang yang tepat dan secara efektif akan mempermudah proses perjalanan hidup dalam pernikahan, lebih produktif dan efisien dengan menghindari perbedaan yang terlalu jauh. Tapi.. aku akhirnya mengerti.. Seorang perempuan tetap berdiri diatas kakinya sendiri. Diatas imannya. Diatas tali yang ia pegang dan bergantung, pada Allah.

--

--

Invisible Adventure
Invisible Adventure

Written by Invisible Adventure

0 Followers

read more, know more

No responses yet