Detik-Detik Bertahan

--

“sungguh, aku tidak bisa bertahan.”

begitu katamu, lepas dialog alot penuh keluhan yang kita tuangkan puluhan menit yang lalu. Saat itu sungguh dilema, aku tidak bisa menahanmu lebih lama ditengah tubuhmu yang bersimbah darah. Belum lagi ragamu yang hampir melayang kau tunjukkan dengan ungkapan hati di sisa-sisa kekuatanmu. Ingin sekali kubuka rantai kebebasan ini, memberikanmu ruang luas untuk bernapas. Membuat ronggamu lapang dan beban dalam punggung itu hilang. Tapi apa dayaku, bahkan kini punggungku masih membawa beban berat dari perjuangan kita. Belum lagi kita perlu menggotong teman kita yang melemah. Ah ya, dia sudah meronta-ronta untuk ditinggalkan berulang kali karena menyadari bahwa keberadaannya akan menjadi beban untuk kita. Tapi akupun tahu, hatimu tidak akan sanggup membiarkan dirinya terlepas dari jalan ini. Gugur, entah sebagai pemenang atau sebagai pecundang.

Kita sama-sama lihat, jalan didepan sana kelabu dan lebat. Selebat titik kita berdiri saat ini, dengan sisa-sisa kemampuan diatas kaki yang pincang. Oh ya, aku ingat. Bukankah itu semua akan pulih jika kita masih menjaga baik-baik tekad dalam hati kita? Meraih kemenangan yang nyata? Tapi bahkan kini, entah hilang kemana sulut api bernama tekad itu. Runtuh ketika berkali-kali kusadari bahwa satu persatu kawan perjuanganku gugur di medan ini tepat didepan mataku. Bahkan mungkin saja, salah satu katalisator yang mempercepat kepergian mereka adalah keegoisanku yang terus bergerak maju.

Kini aku bertanya-tanya, masih adakah sisa kebersamaan itu? masih adakah bara api semangat yang menyatukan kita di jalan ini? masih bisakah kita bertemu diujung nanti, ketika kita sudah sampai tujuan?

Kita tidak akan berhenti, sebelum takdir menghentikan kita.

karena kita sudah berjanji, untuk memilih satu diantara dua kebaikan : hidup mulia atau mati syahid.

--

--

Invisible Adventure
Invisible Adventure

Written by Invisible Adventure

0 Followers

read more, know more

No responses yet