Leiden is Lijden!
Rasa yg timbul setelah baca buku ini : ingin membuat buku kepemimpinan versi kampusku. Empat tahun kuliah liat banyak sekali contoh pemimpin Bukan ketika dia sudah berdiri di depan podium saja, tapi juga ikut menyaksikan awal dia memulai semuanya.
Tingkat 1 ikut LA jalur independen bareng mbak dhanty kala itu ternyata menjadi bekal yg amat mahal, karena dari situ kita bisa lihat wajah wajah ketakutan para ketua kelas ketika jurit malam, eh hehe, kita bisa liat sejumlah pemimpin dalam inkubator kepemimpinan. Saat itu memang mereka hanya berbekal keberanian untuk menjadi ketua kelas, tapi dua,tiga,empat tahun setelahnya, masih bisa kuingat bagaimana tiap tiap mereka memiliki pengaruh yang akan menjadi garis besar perjalanan cerita puluhan mahasiswa yg dipimpinnya. Wih berat berat.
Mau di review satu satu tapi kok panjang ya, tapi tetep aja ingin nge review tokoh2 yg membentuk pemahaman dan kesadaran ttg pimpin-memimpin ini.
Ka faldo, ketua sema 2015–2016–2017. Pemimpin yang membakar semangat pengikutnya dengan memberi kepercayaan yang tulus. Beliau mengatakan, untuk mulai melangkah perlu keberanian tapi disitulah titik terberatnya, dan kesempatan tidak akan datang dua kali. Beliau pun menceritakan bagaimana sesuatu yang amat tidak mungkin, menjadi sesuatu yang bisa diraih. Sema menjadi bukti dan catatan perjuangannya membentuk generasi setelahnya, tanpa pamrih.
Kak Nur Azis, pemimpin yang hangat. Entah bagaimana caranya tapi dia mampu membuat orang2 yang dipimpinnya bersedia membagikan keluh, lalu dia merubahnya menjadi bara semangat yang menggerakkan pasukan dengan suka cita. Seni memimpin bukan?
Pemimpin gpa cheby, kak Hisbul namanya. Beliau membuatku melihat gaya kepemimpinan yang tenang dan demokratis, pemimpin yang mendengar. Sudah pasti pemimpin harus punya keahlian ini bukan? Mendengar dan menumbuhkan rasa memiliki.
Langkah itu terekam dalam pikiran kami, adik adiknya. Lalu dilanjutkan oleh Abit. Dari abit kulihat bahwa pemimpin itu bukan posisi yang main main. Kami bertanggung jawab atas keselamatan banyak jiwa dalam satu pendakian.
Tidak lepas juga dari ingatan, atau bahkan dari sejarah, Rohis punya masul dengan karakter kuat dan dominan. Ka dwek saat itu seperti gebrakan untuk rohis yang aman damai. Dari sini saja, sudah terlihat bagaimana rekam jejak pendahulu yang memegang amanah ini, pun penerusnya, tidak akan main main meletakkan amanah ini kepada pundak seseorang. Wkwk, semangat dek ihza, tahun ini giliranmu.
Tidak terkecuali masul zamanku ya, kalimatnya yg membuatku mengangguk setuju berbulan bulan setelah mendengarnya, “pemimpin adalah seseorang yang tumbuh dan besar di lingkungannya.”
Ah, podium stis pasti mengenang banyak sekali kisah. Ini masih pemimpin yanh terlihat, belum orang-orang biasa yg memang tidak digariskan untuk terlihat memakai rantai kepemimpinan. Orang-orang yang dilahirkan secara alami untuk memimpin. Pemimpin dalam diam, pemimpin yg menyatukan ikatan ditengah, pemimpin yang mendorong di belakang. Ada loh, tipe tipe seperti ini. Orang orang yg sibuk menjadi wadah yg menampung banyak sekali keluh kesah, aku yakin dia akan menjadi yg paling bijak. Ada pula yang dari amanah satu ke amanah lain begitu sami’na wa ato’na, banyak sekali cabang kebermanfaatan yg dia ikuti dari tingkat 1 dan mau tidak mau kusaksikan bagaimana amanah itu membentuk dirinya sampai sejauh ini. Inilah bukti dari pendidikan kepemimpinan, hasil dari penjagaan, dan realisasi dari pernyataan haidar diatas. Pun ini masih yang laki-laki, nyatanya ada lebih banyak perempuan dibalik cerita2 itu. Tidak bisa lepas dari peran perempuan.
Organisasi adalah lapangannya. Sesederhana menyadari peran, mengambil kontribusi, berusaha maksimal dan mengusahakan kehadirannya dalam lapangan kebaikan ini, maka bagiku dia adalah pemimpin, yang bersedia memasuki gerbang penderitaan. Lagi lagi ini bukan soal mampu tidak mampu, atau pantas tidak pantas. Ini soal keberanian yang berkolaborasi dengan keimanan dan berpadu dengan hati.
Begitulah. Pada awalnya ingin kubuat ini jadi resensi buku, tapi ternyata terlalu mengaitkannya dengan memori sendiri,hehe.
Yang pasti, kurang lebih buku ini sama seperti itu. Di stis saja sudah banyak dan keren seperti itu, apalagi jika kita membaca tokoh tokoh dibalik kemenangan dan kejayaan lainnya?
Terima kasih pak Dea Tantyo yg sudah mengkristalkan itu semua menjadi sebuah buku, membuatku seakan berdialog dengan pemimpin-pemimpin masa lalu, menyadari perjuangannya dan menemukan makna dari jalan kepemimpinan yang mereka lalui.
Barangkali kita sedang dalam penjara, yang meminta kita untuk menulis, mengabadikan pengalaman dan pemahaman yg sudah dijalani.
Barangkali kita sedang terkurung, tapi mungkin saja ini menjadi jalan kita untuk merekamnya baik baik, menyimpannya, mengosongkan lagi gelas gelas yang kita miliki agar nanti ketika semuanya selesai, kita siap memulai kisah yang baru. Kita siap menuliskan cerita yang baru.
Hey, pemimpin itu tidak terhenti ketika keadaan membenturnya. Mari mari kita mari.
Sekian resensi buku ala ala ini. Semoga kita semakin paham esensi sebuah buku, esensi tulisan yang akan membuat tokohnya hidup selamanya.
Leiden is Lijden, memimpin adalah penderitaan
#30dwcjilid28
#day11