Orang yang berkualitas

Invisible Adventure
2 min readNov 27, 2021

--

Sepagi ini dan aku melihat orang orang berkualitas muncul dalam layar hp ku. Aku yang baru bangun dan terlambat mempersiapkan pun akhirnya kembali merasa tertinggal. Mereka bukan hanya lebih cepat bangun pagi, lebih siap menghadapi pertemuan, tetapi juga lebih dulu menjadi orang yang berkualitas.. dengan qur’an.

Beruntungnya aku, saat ini terlingkar diantara mereka. Padaha jikalau ada barometer pengukur kelayakan, aku tidak mungkin diizinkan berada diantara mereka. Aku sangat tidak pantas. Dan lagi-lagi aku selalu diberi kesempatan, untuk sekadar mencicipi nikmat tidak terbatas ini.

Dalam hidupku yang ceria selama dua puluh tiga tahun terakhir, aku tidak mengenal kata demotivasi. Aku selalu tahu bagaimana cara mengelola pikiranku untuk memasang target dalam hidup. Aku juga mampu menyetel perasaanku agar aku selalu punya cara melecutkan semangat. Dan alhamdulillah, selama ini dimudahkan untuk mengaitkan potensi, pikiran dan perasaan dengan apa yang sebenarnya menjad tujuan penciptaan, ibadah kan?

Satu pekan menuju dua puluh empat tahun, aku berpikir banyak hal. Tentang pencapaian, tentang hidup, tentang kepulangan, tempat berpulang. Lalu menyadari bahwa aku tidak tahu tempat seperti apa yang dapat kudefinisikan sebagai rumah. Setiap orang membicarakan cuti akhir tahun dan aku tidak tahu akan melabuhkan hati dan mengalirkan cerita kemana, kepada siapa, dan untuk apa semua itu dilakukan. Kehilangan arah. Tidak tahu apa yang ingin dikejar dan untuk apa mengejar itu semua. Setiap kehadiran seseorang selalu berakhir dalam kefanaan, setiap hal dan benda tidak akan terbawa sampai keabadian. Hingga aku merasa takut untuk menyimpan semua itu di hati karena menyadari pada akhirnya aku akan melepas lagi, dan itu menyakitkan. Sesuatu yang disimpan di tangan itu tidak bisa disimpan di hati. Anugerah dunia ini seharusnya kita simpan di tangan, bukan di hati. Jadi ketika seseorang datang, pun pergi, itu semua bukan lagi masalah dan tidak perlu atas izin kita untuk melepasnya, karena memang selalu ada waktu untuk berhenti kita genggam.

Sampai sampai aku merasa perlu hidup kembali, karena aku seakan sudah mati sebelum kematian datang padaku. Sudah tidak menginginkan apapun lagi, hanya ingin pulang dan memberi apapun yang bisa kuberikan untuk ibu. Padahal segala sesuatunya sempurna disini, di kota domisiliku. Aku tidak kekurangan satu apapun. Semoga memang ini cara Allah untuk menaikkan levelku. Menyudahi segala keinginan atas dunia, menggeser semuanya menjadi hanya akhirat saja yang tampak di mata. Dunia ini tempat mencari bekal kan? ada waktu dan kesempatan untuk mendapat tempat terbaik di akhirat dengan memaksimalkan dunia, iya kan? Aku membutuhkan dunia untuk akhiratku, iya benar. Mungkin aku harus menata kembali semuanya.

Dan semuanya bermula dari Al Qur’an. Ia yang membedakan kualitas hidup seseorang.

--

--

Invisible Adventure
Invisible Adventure

Written by Invisible Adventure

0 Followers

read more, know more

No responses yet