Paling Tidak Bisa

Invisible Adventure
2 min readFeb 12, 2021

--

Jauh Jembatan Kayu — Foto gratis di Pixabay

Aku paling tidak bisa menyaksikan anak kecil menangis. Bukan karena luka fisik, tapi luka di hatinya.
Aku paling tidak mampu menahan diri dalam situasi yang membuatku harus memilih di antara dua pilihan yang sama-sama kucintai
Aku paling tidak sanggup berlama lama dalam ruangan pengap yang sepi tetapi penuh sesak oleh pikiran sendiri ketika dua sisi dalam hidupku saling mendiamkan, saling melukai, saling membakar kenyamanan dan kepercayaan. Dan aku tidak akan bisa membela salah satunya.

Aku, selama ini tidak mengerti definisi dari sebuah jembatan. Apakah ia hanyalah alat untuk menyambungkan dua sisi yang berlawanan?
Apakah ia hanya sebagai penghubung yang sama sekali tidak perlu tahu dan tidak berhak ikut merasakan apa yang orang sampaikan dari ujung satu ke ujung lainnya?
Apakah tidak mengapa jika suatu saat, ketika jembatan itu tidak sanggup untuk membawa luka, dia diizinkan untuk beralih fungsi? menjadi jembatan yang menampung saja kepiluan itu, tanpa perlu menyampaikan kepiluan pada sisi di seberangnya.
Apakah boleh jembatan itu memilih untuk patah saja, agar tidak ada lagi yang membuat kedua sisi terus tersakiti dan menyakiti?

Ya. Bukankah selama ini, yang menjadi korbannya adalah si jembatan? sudah berapa kali ia melihat dan mencerna kalimat dan tindakan apa pun yang dibawa dari sisi satu ke sisi lain. Entah sudah sejenuh dan sekebal apa jembatan itu.

Ah, iya. Beruntungnya jembatan itu, hanya sebuah benda yang tidak bisa ikut merasakan. Ia hanya menjadi penyambung yang ingin sekali menghilang agar tidak ada lagi jalan untuk kedua sisi saling menyakiti.

Untung saja, jembatan hanyalah jembatan. yang semakin rapuh dan rusak ketika tidak bisa menopang beban yang melewatinya.

Dan untung saja, jembatan itu bukan seorang anak yang memiliki masa depan cerah, yang butuh cermin dan teladan untuk dirinya di masa depan. Bukan seorang anak yang ikut merasakan penderitaan batin orang tuanya. Bukan seorang anak yang tidak bisa membedakan mana yang seharusnya dia pahami sebagai kebenaran.

Jembatan tetap makhluk mati, ia mempunya masa waktunya untuk dipakai lalu diperbaiki, sedangkan anak? bun, yah, apakah dia akan dibiarkan rusak dan terbebani oleh kata dan tindakan yang seharusnya tidak dia saksikan?

Bun, Yah, mereka sudah semakin rapuh; tolong hentikan.

Jalan hidup tidak ada yang tahu, tapi menyaksikan seseorang langsung di depan mataku, menghapus air matanya langsung dengan punggung tanganku, sudah cukup menjadi pelajaran untuk tidak mengorbankan amanah yang sudah Allah percayakan itu suatu hari nanti.

Dik, tetaplah bertahan dan berprasangka baik pada pemilik seluruh ketetapan, ya?

--

--

Invisible Adventure
Invisible Adventure

Written by Invisible Adventure

0 Followers

read more, know more

No responses yet