Tentang Almamater, Otista 64C.
Saat itu aku tidak tahu, bahwa kampus itu akan menjadi bagian dari hidupku. Bahwa ia akan menjadi tempat diriku mengenal arti sebuah perjuangan, menyapa rasa bernama lelah dan putus asa, untuk akhirnya tersungkur tak berdaya ketika menaiki lantai tertinggi dari setiap rasa, syukur.
Tidak berekspektasi, sama sekali tidak menaruh harapan apa pun pada kampus biru bertitel kedinasan ini. Pengumuman 2016 lalu itu sama sekali tidak membuatku bereaksi apa pun. Satu-satunya alasan yang membuatku bersyukur adalah ketika pengumuman itu begitu berefek pada senyum ayah ibuku, melukis lengkung indah pada wajah mereka, membuat binar di mata mereka benar-benar bersinar ketika menatapku, mengalirkan air mata haru dari sepasang mata itu, air mata yang sungguh membuatku kelu dan haru. Saat itu, mimpiku yang lalu tidak pernah hilang, mimpiku hanya berubah jalannya. Aku yakin itu, yakin sekali.
Arsitek. Sebuah kampus teknologi di kota kelahiranku dengan sempurna menarik diriku dalam medan kekaguman. Kampus itu begitu teduh, bernuansa kayu, suasana berlomba-lomba dalam kebaikan, suasana perjuangan dan keseriusan. Aku benar-benar merasakannya. Semuanya semakin nyata dan kupanjatkan niat untuk menjadi bagian di dalamnya, ketika lantai kayu masjid bernama salman itu kupijak. Seakan menjadi jawaban atas mimpiku yang ingin sekali membangun jembatan, jalan, sekolah, dan semua hal yang bisa membantu orang-orang di daerah pedalaman. Tetapi tidak semudah itu ternyata, atau mungkin bukan lewat situlah jalanku.
Maka demi membayar tatapan hangat kedua orang tuaku itu, kunyatakan diri bahwa semua ini kujalani karenanya. Sama sekali bukan untukku. Asal orang tua senang, tidak apalah. Mimpiku nanti-nanti saja, tidak apa. Aku akan suka, aku akan segera jatuh cinta pada mimpi yang dipilihkan padaku ini. Menerimanya perlahan.
Statistik. Aku terus saja merapal doa, merangkai angan dan prasangka padaNya bahwa aku pasti akan disampaikan pada mimpiku, meskipun dengan jalan yang berbeda. Aku pasti akan menggunakan ilmuku, bekerja secara teknis dan bukan teoritis, membawa perubahan dengan tanganku, memasuki daerah yang jarang tersentuh lalu menyalakan nilai islam disana. Entahlah, aku hanya ingin mengenal lebih jauh negeriku.
Sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus biru itu, kumulai susuri maksud Tuhan mengirimku kesini. Dan dengan ajaibnya, doa dan prasangka itu lambat laun membuatku menemukan tapak jejak yang bisa kupijak untuk selangkah lebih dekat pada mimpiku, pada mimpi tentang kontribusiku pada negeri ini. Lambat laun semua hal disekitarku menjadi jawaban tas setiap pertanyaan. Lambat laun, aku mengerti bahwa inilah caraNya menjawab doa dan mimpiku.
Hingga akhirnya, semua hal yang ada di dalamnya begitu membuatku terenyuh. Kampus biru dan segala isinya itu pada akhirnya membuatku bersyukur karena telah menjadi bagian di dalamnya. Aku tidak akan menangisi apa pun yang telah terjadi. Kepergianku, perpisahanku dengan semua yang membuatku terikat di sana tidak akan lama dirasakan. Hey, bukankah kedatanganmu tahun 2016 lalu tidak membawa cinta dan harapan sedikit pun pada kampus ini? Maka pulanglah dengan hati yang serupa. Hati yang tersenyum dalam syukurnya.
Kampus biru di jalan otista 64C beserta seluruh kenangannya ini kadang membuatku rindu. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa langit terbelah, bumi terbelah dan bulan terbelah. Kata terbelah punya akar kata yang sama dengan akar kata rindu. Maknanya berkaitan, rindu identik dengan perpisahan. Ini penjelasan dari quranreview. Katanya juga, terbelah ini lebih berat dari patah, apakah iya?
Setelah kupikir-pikir, benar juga.
Merindu itu menyakitkan. Membuat kita tidak bisa memilih banyak opsi. Sedangkan patah masih menawarkan satu opsi tambahan, sembuh. Setelah patah, kita bisa memilih untuk bergerak lagi, lalu perlahan sembuh. Tidak terpenjara oleh rindu. Ternyata patah lebih baik. Setelah berbulan-bulan menahan rindu, pertemuan itu diakhiri dengan sesuatu yang mematahkan. Menyakitkan pasti. Tapi kabar baiknya, sebentar lagi kamu akan sembuh! Nikmatilah, obat itu akan sangat membuatmu jauh lebih baik.
Terimakasih sudah mengakhiri penderitaanku menahan rindu, lalu menutupnya dengan sangat baik. Dengan membuat cerita ini berujung indah. Menerima pilihanNya. Moment wisuda itu menutup banyak harapan, sekaligus membuka banyak sekali rindu. Kita memang tidak akan tahu kapan waktu kita berpisah, kapan waktu terakhir kita dengan orang-orang yang kita sayangi.
Maafkan aku kampus biru, sedikit yang bisa kuberikan padamu. Sedikit yang kusyukuri darimu, sesedikit itu saja kau sudah menjadi jembatan yang membawa syukur tak berkesudahan. Maafkan aku karena kau lebih banyak menyaksikanku berurai air mata di sana. Lift gedung berlantai enammu menjadi saksi ketergesaan, rooftop luasmu menjadi pendengar setia keluhku yang mengudara, atau bahkan lorong tanggamu tidak jarang menjadi temanku melepas air mata. Masjid berkubah putih itu akan selalu terbuka bagi siapapun yang datang, masjid itu kapan pun akan selalu membawa keteduhan. Basement yang lenggang atau kantin yang sepi di waktu sebelum sesi dimulai memang selalu menjadi pilihanku melintas, menyapa sejenak bapak satpam dan ibu kantin yang ramah dan riang. Pos satpam yang selalu siap sedia, menjadi lokerku untuk menitipkan banyak sekali barang. Tidak jarang pula menjadi tempat berkomunikasi menggantikan hijab dalam rapat. Sepertinya aku pun tidak akan lupa, suasana mencuci tenda di samping gedung. Bermain keran air dan dengan sengaja membasahi teman-teman yang sedang menyikat tenda. Bahagia, tertawa, lupa dengan tugas dan rumus sejenak.
Terima kasih Otista, karena telah membuatku merasakan degup jantung yang berdetak tak karuan ketika ujian hampir tiba. Membuatku merasakana genggaman hangat seorang teman yang menguatkan, tatapan lembut yang meyakinkan. Membuatku bersandar pada pundak seorang kakak yang begitu menyayangi. Membuatku spontan memeluk seorang adik yang bahkan aku tidak mengenalinya selepas sholat dzuhur di masjid, dalam uraian air mata tak tertahan untuk selanjutnya kembali menuruni tangga masjid dengan senyum yang dipaksa tetap ada. Membuatku melihat banyak kesedihan, keharuan, kebanggaan. Semuanya. Terima kasih, terima kasih, Terima kasih telah menjadi bagian dalam perjalanan hidupku, menjadi tempatku menanam ilmu dan amal, yang perlahan kutuai.
Alhamdulillah, terima kasih almamater. Sampai berjumpa kembali. Saat ini aku sudah tahu jalan mana yang akan kutempuh untuk menggapai mimpiku, jalan yang kau sediakan sebagai abdi negeri, kan?
#30DWCJilid28
#Day25