Tuh Kan
Pernahkah kamu bertemu seseorang yang rasanya seperti sudah kenal sejak lama? Seakan dia adalah sosok yang kembali dari masa lalu.
Aku pernah. Aku mengenalnya dalam pertemuan singkat, tetapi setelahnya seakan aku merasa sangat mengenalinya, seakan kami adalah teman akrab di masa lalu.
Sepertinya sepanjang tahun 2018, namanya sudah hadir dalam pikiran. Nama itu entah bagaimana begitu dicari oleh orang-orang disekitarku, seakan dia adalah salah satu orang yang akan berpengaruh dalam jalan kebaikan di kampus. Aku tidak mengerti, pun tidak tertarik mencari tahu sosoknya. Namun akhir tahun 2018 itu, dengan apiknya dia dihadirkan dihadapanku dalam pertemuan yang mengesankan.
Sejujurnya ini masih menjadi misteri. Bahkan hingga kini, disaat satu persatu ikatan terurai. Disaat banyak komunikasi yang justru terputus perlahan. Hatiku, entah bagaimana caranya merasa terpaut semakin dalam, seakan dia dan segala lingkungan yang telah kumasuki ini tidak akan kemana-mana. Bahkan rasanya seperti seumur hidup aku akan terikat.
Perasaan semacam ini persis seperti ketika aku bertemu dengan dua sosok dalam kegiatan pecinta alam di kampusku. Entah bagaimana, dua sosok itu seperti memiliki pesan dalam kehadirannya. Seakan ingin mengatakan sesuatu tentang masa depan, tetapi kami masih dalam detik yang sama. Dan lalu, dua tiga tahun kemudian, aku jelas mengerti bahwa kehadiran dua sosok itu sangat berpengaruh dalam langkahku di dunia kampus. Seakan mereka memberi tapak jejak yang aku ikuti perlahan. Tapak jejak dan rasa yang tidak pernah didapatkan orang lain disekitarku. Aku tidak menduga, dua sosok di kegiatan pecinta alam itu ternyata merupakan kepala-kepala yang sibuk memikirkan amar maruf nahi munkar di kampus. Dan lalu aku? entah. seperti menemukan pusaran air yang deras dan aku dengan sadar menyeret diri kedalamnya.
Pertama kulihat, bahkan tidak ada tanda-tanda kakak yang “islami” dari mereka, tetapi entah darimana aku tahu, bahwa mereka akan berpengaruh besar dalam perjalananku. Dan lalu benar, tidak ada satu minggu pun terlewati tanpa bertemu mereka. Dan pertanyaanku tentang “untuk apa Allah mempertemukan mereka dalam hidupku” saat itu, benar-benar terjawab seiring waktu, dan mungkin masih terus terjawab hingga entah kapan.
Jadi, apakah ini hanya intuisi?
Entahlah, aku seakan berada dalam rangkaian pertemuan yang membawaku pada pertemuan lainnya, yang kabar buruknya, pertemuan itu melibatkan dirinya. Sudahlah, tidak perlu ditanya sesulit apa aku mengendalikan hati.
Namun sekali lagi, aku masih berprasangka, apakah ini hanya intuisi? atau memang diletakkan dalam hati dan pikiranku untuk teruntai harapan? Mengapa bisa “pas” seperti ini, aku jadi merinding, benar-benar merasakan dengan sadar bahwa aku sedang berada dalam garis takdirNya.
Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Sepertinya pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain dan di luar kesadaran.
Ah, pantas saja logika hipotesis statistik begitu sulit kucerna. aku lebih mudah berteman dan mendengarkan intuisi.
Tetapi, pada akhirnya aku sangat mensyukuri intuisiku pada dua orang itu. Dan bahkan meluas, bukan hanya dua orang tetapi seluruh orang yang terlibat dalam kegiatan pecinta alam dan kegiatan amar maruf nahi munkar di kampus. Semuanya berkesan, semuanya bisa disadari perannya. Pesan yang ingin Allah sampaikan lewat masing-masing mereka.
Tetapi seseorang di tahun 2018 itu, entahlah. Masih mengusik pikiran. Membuatku menunggu dengan senyuman, akan ada kejutan apa lagi yang disiapkan olehNya.